Matius 25: 34-40 – Melayani Kristus

ayat_140306

 

Berhentilah sejenak dan renungkanlah tujuan hidup Anda. Apakah Anda hidup untuk mengejar kepentingan atau kesuksesan Anda sendiri? Apakah energi Anda berkutat di sekitar anggota keluarga Anda? Mungkin ambisi Anda adalah untuk mengubah dunia menjadi lebih baik.

Semua ini — bahkan tujuan tersebut terakhir, yang terdengar begitu baik dan tidak mementingkan diri sendiri — adalah sia-sia.

Satu-satunya tujuan yang bernilai kekal dan penuh adalah melayani Kristus. Sebagai pengikut-Nya, kita harus menjadikan Dia model kehidupan kita. Dan Markus 10:45 mengatakan bahwa “Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Kita memuliakan Dia dengan melakukan hal yang sama.

Namun, kadang-kadang kita merasa kecil ketika kita memikirkan cara-cara yang luar biasa orang percaya lainnya melayani Tuhan. Dengan penyertaan Allah Raja Daud memimpin tentara yang besar ke dalam perang. Saat ini, ada penginjil yang berbicara kepada puluhan ribu, dan banyak jiwa yang diselamatkan. Bagaimana kita dapat membandingkan pelayanan kita dengan pencapaian demikian itu?

Sementara membandingkan diri dengan yang lain dapat membuat kita kecil hati, tidak sedikti orang Kristen yang menggunakan alasan lain untuk tidak mencoba melayani — seperti kurangnya pengalaman atau memiliki kepribadian yang tidak cocok untuk tugas bersangkutan, dll. Tetapi panggilan Tuhan bagi setiap orang adalah unik. Dia akan memberikan kata-kata, kemampuan, dan keadaan atau lingkungan sehingga Anda dapat mengerjakan apa Allah inginkan untuk kita kerjakan. Ingat, Bapa kitalah dengan kuasa Rohnya yang mengerjakan melalui kita. Kita hanyalah alat, dan kita dilengkapi dan diberkati untuk dapat dipakai oleh-Nya .

Perenungan, apakah Anda menunjukkan kasih Anda bagi Tuhan dengan melayani orang lain? Hiduplah sedemikian rupa sehingga ketika malam tiba Anda dapat mengatakan kepada-Nya, “Tuhan, dengan yang terbaik yang saya tahu saya telah berusaha untuk melayani Tuhan hari ini sesuai dengan maksud tujuan-Mu.”

(Dr Charles Stanley, Intouch Ministries)

Yakobus 3:9-18 – Menabur dalam Roh

ayat140301

 

“Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai. – Yakobus 3:17-18

 

DALAM semua pilihan kita sehari-hari, pilihan kita salah satu:
“menabur dalam daging” atau “menabur dalam Roh” (Galatia 6:8). Dengan tindakan dan pikiran kita, kita menanam benih yang mempengaruhi bagaimana kita akan tumbuh dan tingkat dampak kehidupan kita bagi Tuhan.

“Daging” adalah bagian dari kita yang ingin hidup dan bertindak bebas dari Tuhan. Sebagai manusia, kita semua harus berurusan dengan tarikan sikap ini, kita tidak lepas dari padanya secara otomatis ketika kita diselamatkan.

Namun, Roh Kudus membebaskan kita dari perbudakan daging. Dia mulai mengubah kita sehingga kita dapat berpaling dari godaan hidup menipu diri sendiri dan bukannya mulai hidup sesuai dengan kebenaran.

Pilihan yang kita buat berkontribusi dalam proses transformasi, dan ketika pilihan tersebut sejalan dengan pekerjaan Roh Kudus, benih yang baik itu bertumbuh dan menghasilkan buah.

Bila Anda menabur dalam Roh, Anda menerima kebenaran Allah dalam pikiran dan hati Anda. Kemudian Anda akan mulai mengalami hidup yang kekal, yang berasal dari benar-benar mengenal Tuhan (Yohanes 17:3). Buah Roh tumbuh secara alami dari benih kebenaran ilahi dan mempengaruhi setiap aspek kehidupan Anda. Ketika Anda memberi makan roh Anda dengan hal-hal dari Allah, Anda akan menjadi lebih kuat , lebih menjadi seperti Kristus, dan hidup-Nya lebih memenuhi dalam pikiran dan tindakan Anda.

Apakah Anda memberi makan jiwa Anda dan sumur kehidupan Anda, atau apakah Anda memberi makan bagian dari Anda yang ingin hidup dan bertindak bebas dari Allah? Apakah pilihan Anda menabur benih yang membangun Anda, membuat Anda berbeda, dan membiarkan aliran-aliran air hidup mengalir dari Anda untuk menjadi berkat bagi orang lain? (Yohanes 7:37-39).

(Dr Charles Stanley, Intouch Ministries).

Yohanes 13:1-15 – Hamba Yang Sejati

ayat_140228_john13_14

 
“Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” – Yohanes 13:14-15

 

APAKAH Anda menyamakan sukses dengan kekayaan , pujian , dan kekuasaan ? Jika kita diukur dengan standar-standar ini, maka Yesus , yang ditolak oleh masyarakat -Nya dan bahkan tidak memiliki rumah-Nya sendiri, adalah sebuah kegagalan . Tapi, tentu saja, kita tahu bahwa itu tidak terjadi. Jadi Tuhan harus menggunakan sesuatu selain tujuan-tujuan duniawi ini untuk mendefenisikan keberhasilan. Bahkan, Alkitab jelas bahwa Yesus Kristus adalah teladan kita — kita harus berusaha untuk menjadi seperti Dia.

Jadi, apa sebenarnya adalah misi Juruselamat kita? Dalam perikop hari ini, kita melihat jawabannya melalui tindakan-Nya: Dia datang untuk melayani. Para murid, ingin pengakuan dan penghargaan, berdebat tentang siapa yang akan menjadi yang terbesar di surga. Sebaliknya, Yesus menanggalkan jubah -Nya dan melakukan tugas hamba yang paling rendah: Dia membasuh kaki kotor dari para murid-Nya. Keesokan harinya, Tuhan Yang Maha Esa disalibkan oleh ciptaan-Nya sendiri. Ini boleh terjadi, bagi keselamatan kita semua — bahkan bagi mereka yang memakukan Dia di kayu salib.

Yesus layak menerima kemuliaan tapi memilih pengorbanan dan penderitaan. Dan Dia meminta kita mengikuti teladan-Nya dalam melayani. Dengan pengecualian Yudas, murid-murid-Nya menunjukkan ketaatan.

Pada kenyataannya, mereka semua menghadapi kesulitan besar dan kebanyakan meninggal oleh kematian brutal karena iman mereka. Tapi mereka rela menjalani jalan kerendahan hati seperti apa yang Yesus telah ajarkan kepada mereka: “Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.” (Matius 20:16).

Bagaimana Anda menghabiskan tenaga, sumber daya dan waktu Anda? Dan topik apa yang mendominasi pikiran dan percakapan Anda?

Ini adalah beberapa indikator yang mengendalikan tujuan dalam hidup Anda. Anda mungkin menginginkan pengakuan duniawi, tetapi Allah memiliki panggilan yang lebih tinggi bagi anak-anak-Nya. Mintalah Dia untuk menumbuhkan sikap seorang hamba dalam hati Anda.
(Dr. Charles Stanley, In Touch Ministries)

Amsal 11:3-8 – Jujur 6 Sen

ayat_140227

 

“Orang yang jujur dilepaskan oleh kebenarannya, tetapi pengkhianat tertangkap oleh hawa nafsunya.” (Amsal 11:6)

Honest Abe—alias Abe yang jujur—nyatanya bukan julukan kosong bagi Abraham Lincoln, presiden ke-16 Amerika Serikat. Sejak kecil ia konsisten bersikap jujur. Ibu tirinya berkomentar, “Ia tidak pernah berdusta pada saya seumur hidupnya, tidak pernah berdalih… atau mengelak untuk menghindari hukuman atau tanggung jawab lain…” Ia bersikap jujur dalam perkara kecil sekalipun, seperti ditunjukkannya ketika menjadi penjaga toko di New Salem, Illinois. Suatu petang, saat mencatat neraca keuangan, Lincoln mendapatkan bahwa ia telah memungut bayaran sekitar 6 sen lebih banyak dari seorang pelanggan. Malam itu juga, ia berjalan kaki beberapa mil ke rumah pelanggan itu untuk mengembalikan uang tersebut.

Salomo menguntai beberapa amsal tentang berkat dari kejujuran. Berjalan dalam kejujuran mendatangkan rasa aman yang kudus. Kejujuran itu seperti jalan yang, sekalipun tidak gampang untuk ditempuh, tidak akan menyesatkan. Kejujuran, dengan demikian, membebaskan dan melindungi kita. Ia membebaskan kita dari daya pikat dosa dan sistem dunia yang penuh jebakan serta melindungi kita dari ancaman kerusakan dan kebinasaan yang menyertainya.

Di negeri kita belakangan ini, kejujuran terasa begitu sulit untuk ditemukan. Sebaliknya, korupsi merajalela. Keadaan memprihatinkan ini sejatinya merupakan kesempatan bagi orang benar untuk bersinar. Di tengah kegelapan korupsi, biarlah kita menjalankan pekerjaan, termasuk pekerjaan yang tampak remeh sekalipun, dengan penuh kejujuran. – Renungan Harian

Ketika kita hidup dalam kejujuran,
kejujuran akan membela dan melindungi kita

 

Sindroma Yohanes 21:3 – Jala Kosong – Ketika Tuhan membiarkan Kita Gagal

ayat_140205

“Kata Simon Petrus kepada mereka: ‘Aku pergi menangkap ikan.’ Kata mereka kepadanya: ‘Kami pergi juga dengan engkau.’ Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. (John 21:3)

 

Itu saat déjà vu bagi para murid. Mereka telah memcari ikan sepanjang malam di Danau Galilea dan tidak mendapat apa-apa. Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada beberapa murid. Tidak ada perintah yang jelas, sehingga mereka pikir mereka akan kembali ke pekerjaan mereka sebelumnya: nelayan.

Saat itu pagi-pagi sekali, mungkin masih gelap. Mereka melihat sosok yang berdiri di pantai. “Kata Yesus kepada mereka: “Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?” Jawab mereka: “Tidak ada.” (Yohanes 21:5).

Di dalam Alkitab, Allah sering menanyakan pertanyaan-pertanyaan menyelidik ketika Dia ingin pengakuan. Dengan cara yang sama, Yesus bertanya pada murid-murid-Nya, “Apakah kalian punya hasil tangkapan? Apakah kalian berhasil? Apakah hal-hal terjadi dengan cara yang kalian harapkan? Apakah kalian puas? “

Mengapa Yesus ingin mereka mengakui kegagalan mereka? Dengan demikian Dia dapat membawa mereka ke tempat kemana mereka seharusnya ada.

Ketika mereka membuang jala di sisi kanan perahu seperti Yesus perintahkan kepada mereka, jala mereka menjadi begitu berat dengan ikan sehingga mereka tidak bisa menariknya masuk.
Tuhan sedang mengajar murid-murid sebuah pelajaran penting: Kegagalan sering menjadi pintu keberhasilan nyata.

Kita juga perlu sampai ke titik tersebut dalam kehidupan kita. Kita perlu datang dan berkata, “Tuhan, saya tidak puas dengan cara hidup saya saat ini. Saya bosan menjalaninya dengan cara saya. Saya ingin menjalaninya dengan cara Tuhan.”

Jika Anda akan datang kepada Allah seperti itu, Dia akan membuat kita mengerti dan mengalami pengampunan-Nya. Kemudian Dia akan mengambil hidup Anda dan mengubahnya dengan cara yang Anda tidak pernah bisa bayangkan.

(Pdt Greg Laurie, Harvest Ministries)

Matius 22:37-39 – “Paus Mengejar Sarden”

ayat_140204

“Jawab Yesus kepadanya: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:37-39)

Beberapa tahun yang lalu, tiga ratus ikan paus ditemukan terdampar di pantai. Para ilmuwan berspekulasi bahwa ikan paus mengejar sarden dan terjebak di perairan dangkal ketika pasang turun. Sekarang, itu hal yang luar biasa. Dengan mengejar sarden kecil, makhluk-makhluk raksasa ini akhirnya menyebabkan kehancuran mereka sendiri.

Banyak orang menyia-nyiakan hidup mereka “mengejar sarden”. Mereka mengkhawatirkan hal-hal kecil dan tidak memiliki fokus atau tujuan yang jelas dalam pikiran mereka.

Tapi Tuhan memberitahu kita apa yang harus menjadi tujuan utama dari setiap orang Kristen. Jika kita bisa menaruh prioritas kita pada tujuan utama ini, segala sesuatu yang lain akan jalan dengan sendirinya. Bahkan, jika kita bisa mendapatkan kedua prinsip ini berlaku dalam kehidupan kita, maka semua perintah-perintah Allah akan menjadi aliran alami dari komitmen kita kepada-Nya. Apa prinsip-prinsip tersebut? Pertama, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. ” (Matius 22:37), dan kedua, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (ayat 39).

Ketika Yesus berbicara tentang ayat tersebut, Ia menunjukkan apa yang harus menjadi fokus dari setiap orang. Pada dasarnya, Dia mengatakan bahwa kasih adalah dasar untuk semua ketaatan. Jika Anda benar-benar mengasihi Tuhan, maka Anda secara natural akan ingin melakukan hal-hal yang menyenangkan Dia.

Pernah dikatakan bahwa jika Anda bertujuan pada sesuatu yang tidak jelas, Anda akan pernah tau mencapai sesuatu atau tidak.

Apakah prioritas tertinggi Anda dalam hidup? Apakah tujuan Anda? Kita semua mencurahkan energi dan hasyrat dan pikiran terhadap sesuatu dalam hidup. Bagi Anda hidup itu untuk apa?
(Pdt Greg Laurie, Harvest Ministries, http://www.harvest.org)

1 Yohanes 1:1-4 – Tahta Kemuliaan Allah

mu140201

 

“Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi … tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami …..supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.” – 1 Yahya 1: 2,3

KETIKA Anda berdoa, bagaimana Anda mendekati Allah? Banyak orang Kristen membayangkan sesuatu yang benar dan suci dan menghampiri-Nya dengan perasaan takut, tidak layak, dan keengganan. Di sisi lain, banyak orang percaya menggambarkan Allah sebagai seorang teman dan berbicara kepada-Nya dengan rada hormat.

Tidak ada dari pendekatan tersebut yang sehat. Pikiran kita yang terbatas tidak dapat sepenuhnya memahami bahwa Allah adalah baik kasih dan kudus. Mari kita pertama menyelami “sisi” Allah yang suci dan membangkitkan kegentaran itu.

Ketika Anda membaca ayat diatas dari nas hari ini, gambarkanlah kekuatan luar biasa di sekeliling tahta Allah. Hal itu memenuhi hati saya dengan rasa kagum dan heran.

Sebelum Yesus datang di bumi, di Bait Allah terdapat sebuah bagian yang disebut ruang Maha Kudus, di mana hadirat Allah berdiam. Hanya imam yang bisa masuk – dan hanya pada hari-hari tertentu, setelah dengan pembersihan dan persiapan diri menurut aruran yang ditentukan. Jika ia tidak mendapatkan dirinya siap tepat sesuai dengan aturan kitab suci, ia akan dihukum mati.

Untuk berada dalam hadirat Allah membutuhkan ketaatan. Bahkan, karena kekudusan dan kesempurnaan mutlak Mahakuasa, Dia tidak dapat bersatu dengan dosa, yang merupakan keadaan seluruh umat manusia (Roma 3:9). Oleh karenanya, setiap orang dari kita bersalah dan layak dihukum.

Namun syukurlah, Allah tidak meninggalkan kita tak berdaya, tetapi oleh karena kasih dan anugerah-Nya, Dia mengutus Anak-Nya sebagai Penebus kita.

Setiap halaman Alkitab dapat memperdalam pemahaman kita tentang keagungan Allah. Apakah Anda takjub, kagum pada keberadaan dan perbuatan-Nya?

Untuk memahami lebih dalam tentang karakter-Nya, kita harus mendisiplinkan diri untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan. Kemudian mengambil waktu untuk memuji-Nya, karena Dia sendirilah yang layak bagi penyembahan dan pemujaan kita.
(Dr. Charles Stanley, In Touch Ministries)

Kejadian 1:27-28 – Hidup Tanpa Tujuan

ayat_140120

“Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:27-28).

 

Kita ada untuk Allah; Allah senang melakukan banyak hal bagi umat-Nya , tetapi alasan kita bangun di pagi hari adalah untuk memenuhi maksud-tujuan-Nya bagi hidup kita , bukan hanya untuk meminta -Nya untuk memberkati tujuan kita bagi hidup kita. Allah tidak ingin menjadi mesin penjual (vending machine) kita, dimana kita masukkan koin ke dalam dan apa yang kita inginkan keluar. Sampai kita mengerti bahwa kita ada bagi-Nya, kita tidak akan pernah tahu tujuan hidup kita.

Ketidakadaan tujuan hidup dapat dilihat mana-mana. Tony Evans dalam renungan hari ini mengambarkan keberadaan tanpa tujuan dengan kehidupan anjing.

Anjing banyaknya menggonggong, dan sebagian besar waktunya hanya membuat kebisingan dan sebenarnya tidak ada memberitahu sesuatu yang penting. Orang-orang tanpa tujuan berbicara banyak hanya karena mereka ingin didengar.

Anjing juga ingin lari kesana kemari dalam lingkaran. Ia berputar-putar, tapi sesungguhnya tidak pernah sampai kemanapun. Ketika selesai berjalan berputar-putar, ia segera kembali ke tempat dari mana ia mulai.

Orang-orang yang tak mempunyai tujuan hidup seperti itu, beputar-putar kesana kemari dengan segala aktifitasnya untuk menemukan kepuasan, hanya untuk kemudian menemukan diri mereka sesungguhnya bergerak tanpa tujuan yang jelas.

Anjing (maaf) juga hidup pada tingkat eksternal saja. Ia suka dielus dan diusap-usap, menunjukkan rasa senang dengan mengibas-ibas ekornya, tapi tidak ada sesuatu dampak nyata yang dirasakan di dalam. Orang-orang tanpa tujuan sama seperti itu, mereka mendandani diri untuk terlihat baik dan membuat diri mereka merasa lebih baik.

Jika hal ini menggambarkan pengembaraan tanpa tujuan Anda, adalah rencana dan keinginan Allah untuk membebaskan Anda dari hal tersebut, tetapi harus dengan persyaratan-persyaratan-Nya.

Ingatlah, Allah memiliki rencana bagi hidup kita yang akan membawa kemuliaan bagi-Nya dan membawa kita pada kebajikan terbesar dalam hidup.
(Dr. Tony Evans, LightSource.com)

Amsal 3:5-12 – Hidup Yang Berbuah

“6 Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. 7 Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; 8 itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.” – Amsan 3: 6-8

Allah telah menciptakan kita dengan kerinduan untuk mengetahui bahwa kehadiran kita di dunia ini adalah penting . Dia juga merancang kita untuk menemukan pemenuhan kerinduan tersebut melalui Anak-Nya Yesus Kristus .

Ketergantungan pada Allah adalah pusat hidup kristiani berkelimpahan.

Mempercayai-Nya dengan segenap hati kita berarti memberi-Nya kendali atas keluarga kita, keuangan, pekerjaan, dan segala sesuatu yang lainnya.
Nats hari ini menekankan bagaimana kebersandaran kita pada Tuhan penting artinya dalam kehidupan yang berbuah: kita diingatkan agar, “percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri” (Amsal 3:5,7).

Ketika menghadapi pengambilan keputusan, kita dapat tergoda untuk mencari dan memilih jawaban menurut pikiran kita yang terlihat benar. Tapi kita tidak bisa mengetahui semua fakta atau memprediksi dengan pasti bagaimana orang lain akan merespon. Namun, Allah adalah mahatahu. Dia ” membaca ” hati dan mengerti setiap pikiran, tidak ada aspek kehidupan kita lolos dari perhatian-Nya (1 Taw 28:9 ; Maz 11:4), dan Dia peduli tentang semua orang. Itu sebabnya Dia sendiri tahu mana keputusan yang terbaik untuk setiap situasi.

Hidup berkelimpahan juga menyangkut pengakuan kita akan Tuhan dalam semua yang kita lakukan (ay 6). Berbicara tentang Dia juga merupakan bagian dari apa artinya memberikan pengakuan akan Tuhan. Sebagai anak-anak-Nya, kita harus memiliki keserupaan dengan Tuhan dalam pikiran kita, sikap, dan tindakan.

Prioritas kita adalah untuk merefleksikan-Nya, dan rencana-rencana kita harus sesuai dengan kehendak-Nya .

Hidup menjadi berbuah ketika kita menyerahkan diri kita kepada Tuhan dan melakukan kehendak-Nya. Dengan membiarkan Roh-Nya untuk menguasai hidup (Gal 2:20), kita akan menemukan kehidupan kita ditandai dengan makna hidup dan kepuasan hidup.
(Dr. Charles Stanley, In Touch Ministries)

1 Korintus 1:1, Dinamit Allah

ayat_140105_power of gospel

 

“Sebab Kristus mengutus aku ….. untuk memberitakan Injil; dan itu pun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia” (1 Korintus 1:17)

Ada kekuatan besar dalam pesan Injil karena Paulus berkata, “Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya.…… ” (Roma 1:16).

Kata “kekuatan” yang digunakan Paulus dalam ayat ini berasal dari kata Yunani “dunamis”. Ini sama dengan kata yang digunakan Yesus dalam Kisah Para Rasul 1:8, “Tetapi kamu akan menerima kuasa (dunamis), kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea”.

Kata-kata dalam bahasa Inggris, dynamic (Indonesia, dinamik), dan dinamit juga telah diterjemahkan dari kata dunamis ini. Paulus mengatakan pesan sesungguhnya Injil adalah dinamit dan dinamika Tuhan.

Kita sering meremehkan kekuatan besar Injil dalam mencapai bahkan hati yang paling keras. Kita kita perlu menambahkan ini itu, membuatnya tampak menarik, dan ultrakontemporer. Tetapi ada kekuatan yang nyata berbeda dalam pesan sederhana dari kehidupan, kata-kata, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Jangan pernah meremehkan “daya tarik” hal itu. Jangan pernah malu akan “kesederhanaan” Injil. Jangan menambahkan atau menguranginya.

Yang perlu kita kerjakan, hanya menyatakannya, kemudian biarkan Allah yang mengerjakannya dengan kuasa-Nya. Seperti yang Paulus katakan, “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. (1 Korintus 1:18). (Greg Laurie, Harvest Devotional)