1 Korintus 1:18-31, Iman vs Akal

ayat_131212_faith_reason

 

“17 Sebab Kristus mengutus aku … untuk memberitakan Injil; dan itu pun bukan dengan hikmat perkataan, …18 Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.”

Pertempuran pertama antara iman dan akal atau nalar manusia terjadi di Taman Eden. Didorong oleh kebohongan ular, Hawa mulai melihat situasinya dari sudut pandang logis murni dan memutuskan dia telah dibohongi oleh Allah tentang sesuatu yang baik. Imannya goyah ketika sesuatu yang nalar dan menarik memenuhi pikirannya.

Saya tidak mengatakan bahwa cara iman tidak pernah logis, tetapi dengan hanya beroperasi atas dasar masuk akal atau nalar, konflik tentang Tuhan tidak bisa dihindari. Alasannya adalah bahwa petunjuk dan tindakan-Nya tidak selalu nalar atau masuk akal dari perspektif manusia. Meskipun Yesaya 55:8-9 menggambarkan pikiran dan jalan Tuhan sebagai lebih tinggi dari manusia, banyak orang menilai gagasan ilahi lebih rendah dari intelijensia manusia.

Paulus menekankan hal ini ketika ia menunjukkan bahwa pilihan Allah adalah tidak logis menurut standar dunia. Pesan keselamatan Allah melalui Salib tampak merupakan kebodohan, dan utusan-Nya tampak lemah dan tidak mengesankan.

Dalam jaman yang sangat mengutamakan pengakuan, pengaguman, dan menjadi pusat perhatian, orang yang percaya Alkitab dianggap lemah yang membutuhkan tongkat penopang agama untuk dapat menghadapi kehidupan. Sementara pemikiran tersebut bernada ejekan, tapi sesungguhnya cukup benar. Karena menyadari ketidakberdayaan mereka lah, orang-orang percaya bersandar pada Kristus sehingga Ia dapat mengangkat mereka untuk berdiri bersama-Nya dalam kebenaran.

Hari itu di Eden, dosa dan pementingan diri memasuki hati manusia. Tapi semua hikmat duniawi yang mengobarkan keangkuhan kita ditiadakan oleh Allah. Dia mencari bukan untuk orang-orang hebat dan mengesankan tapi orang-orang yang lemah, hamba yang rendah hati yang memegahkan hanya di dalam Kristus. Hanya Kristus Juruselamat yang menjadi kekuatan dan hikmat mereka.

(Dr. Charles Stanley, http://www.intouch.org)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s